Minggu, 30 Juni 2013

Anak Lihat Situs Porno, Apa yang Harus Dilakukan?

Wartadakwah.com - Seorang ibu muda, sebutlah Ibu Diana tengah gundah gulana. Ia dipanggil oleh guru wali kelas putranya yang duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Wali kelas menyampaikan bahwa putra Ibu Diana bersama dua temannya pernah men-download konten situs porno dari HP.

Ia kaget dan shock karena tidak menyangka anaknya berbuat seperti itu. Kini ia pun bingung pendekatan apa yang harus diambilnya guna menyelamatkan putranya yang baru berusia 8 tahun tersebut.
 
Seorang psikolog, Ibu Wiwit Liftiani memberikan beberapa tips agar dampak momen buruk tersebut dapat diminimalisir. Berikut penjelasan beliau seperti dilansir Radar Cilik.
Wajar kalau orang tua gundah setelah mengetahui buah hatinya pernah melihat situs porno. Bingung apa yang harus dilakukan terhadap si buah hati. Marah? Atau biasa saja? Kadang juga risau akan dampak buruk yang mungkin muncul.

Untuk anak yang sempat melihat situs porno memang bisa dipastikan anak tetap menyimpan pengalaman itu dalam benaknya. Pengaruh pada perkembangan yang mungkin muncul adalah jejak ingatan gambar-gambar itu yang dapat muncul kapan saja. Memori ini dapat mungkin muncul pada waktu anak senggang atau sedang tidak sibuk.

Ada beberapa hal yang harus orangtua lakukan apabila mendapati putra-putrinya pernah melihat situs porno:
  1. Jangan terlalu panik, bahkan tidak perlu marah ketika kita mendapati atau mengetahui putra-putri kita pernah elihat situs porno. Yang harus dilakukan adaah menanyakan dengan baik-baik dan lembut perasaan anak. Beri kesempatan pada anak untuk mengeluarkan perasaan yang muncul pada saat dia melihat gambar di situs porno tersebut. Dan upaya ini juga dilakukan dalam rangka untuk mendalami pengetahuan anak tentang apa yang dilihatnya.
  2. Berikutnya adalah orangtua harus menyampaikan pesan-pesan moral bahwa melihat gambar porno tidak baik karena dilarang Allah.
  3. Diupayakan orangtua banyak memberi kesibukan yang akan mengembangkan potensi-potensi anak, sehingga potensi-potensi yang tersimpan itu tidak mempengaruhi tingkah lakunya.
  4. Orangtua juga terus diharapkan melakukan pendampingan dengan memperhatikan putra-putrinya ketika bermain dengan teman-temannya. Pendampingan ini juga termasuk ketika putra-putri kita sedang membuka komputer, HP, dll.
  5. Orangtua perlu memproteksi komputer dan media elektronik lainnya yang ada di rumah, atau dimiliki oleh putra-putri kita, agar anak terlindung dari pengalaman melihat gambar-gambar porno.
  6. Diharapkan, orangtua juga terus membangun komunikasi yang efektif agar anak berani dan tidak takut menyampaikan apa yang dirasakan dan dialaminya pada masa yang akan datang. Dan, anak juga merasa nyaman dengan menceritakan kepada orangtua pengalaman-pengalaman yang dia alami sehari-hari.
  7. Terakhir adalah senantiasa mendoakan buah hati kita agar di masa yang akan datang terhindar dari pengalaman-pengalaman yang tidak baik bagi perkembangan masa depannya.
(esqiel/muslimahzone.com)

Minggu, 23 Juni 2013

Menyiapkan Diri Menyambut Ramadhan

Wartadakwah.com - Tak terasa kita telah memasuki bulan Sya’ban. Sebentar lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan. Setelah sekian lama berpisah, kini Ramadhan kembali akan hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang muslim, tentu kedatangan bulan Ramadhan akan disambut dengan rasa gembira dan penuh syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, rahmat dan menuai pahala serta sarana menjadi orang yang muttaqin.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.

Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Swt dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya. Bukan pula pergi ke pantai menjelang Ramadhan untuk rekreasi, makan-makan dan bermain-main.

Jadi, bagaimana sebenarnya cara kita menyambut Ramadhan? Apa yang mesti kita persiapkan dalam hal ini? Maka tulisan ini mencoba memberi jawaban dari pertanyaan tersebut. Menurut penulis, banyak hal yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan menyambut  kedatangan Ramadhan, yaitu:

Pertama, berdoa kepada Allah Swt, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah Swt dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan selama enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah Swt, karena berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah Swt. Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan” (Lathaif Al-Ma’aarif: 174)

Di antara doa mereka itu adalah: ”Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan”.  Dan doa yang populer: ”Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.

Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadha puasa sesegera mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang mempunyai kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang ibu yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang puasa tahun lalu pada bulan Sya’ban. Sebagaimana Aisyah r.a  tidak bisa mengqadha puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. Menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i  sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa, maka kewajibannya adalah tetap mengqadha, dan ditambah kewajiban membayar fidyah menurut sebagian ulama.

Ketiga, persiapan keilmuan (memahami fikih puasa). Mu’adz bin Jabal r.a berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.

Oleh karena itu, suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya. Maka dalam hal ini, hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui cara berpuasa yang benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw. Begitu juga ilmu sangat diperlukan dalam melaksanakan  ibadah lainnya seperti wudhu, shalat, haji dan sebagainya. Maka, menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita untuk membaca buku fiqhus shiyam (fikih puasa) dan ibadah lain yang berkaitan dengan Ramadhan seperti shalat tarawih, i’tikaf dan membaca al-Quran.

Kempat, persiapan jiwa dan spiritual. Persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah Saw.

Persiapan jiwa dan spiritual merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam upaya untuk memetik manfaat sepenuhnya dari ibadah puasa. Penyucian jiwa (Tazkiayatun nafs) dengan berbagai amal ibadah dapat melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan, dan amalan-amalan hati lainnya yang akan menuntun seseorang kepada jenjang ibadah yang berkualitas. Salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spritual untuk menyambut Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah di bulan sebelumnya, minimal di bulan Sya’ban ini seperti memperbanyak puasa Sunnat.

Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban merupakan sunnah Rasul saw. Aisyah ra, ia berkata, “Aku belum pernah melihat Nabi saw berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Nabi saw berpuasa sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban. (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, dari Usamah bin Zaid r.a ia berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan lain yang sesering pada bulan Sya’ban”. Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang diabaikan oleh orang-orang, yaitu antara bulan Ra’jab dengan Ramadhan. Padahal pada bulan itu amal-amal diangkat dan dihadapkan kepada Rabb semesta alam, maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Adapun pengkhususan puasa dan shalat sunat seperti shalat tasbih pada malam nisfu sya’ban (pertengahan Sya’ban) dengan menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka hal itu tidak ada dalil shahih yang mensyariatkannya. Menurut para ulama besar, dalil yang dijadikan sandaran mengenai keutamaan nisfu sya’ban adalah hadits dhaif (lemah) yang tidak bisa dijadikan hujjah dalam persoalan ibadah, bahkan maudhu’ (palsu). Oleh Sebab itu, Imam Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits-hadits mengenai keutamaan nishfu Sya’ban ke dalam kitabnya Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu).

Al-Mubarakfuri berkata, “Saya tidak mendapatkan hadits marfu’ yang shahih tentang puasa pada pertengahan bulan Sya’ban. Adapun hadits keutamaan nisfu Sya’ban yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah saya telah mengetahui bahwa hadits ini adalah hadits sangat lemah” (Tuhfah Al-Ahwazi: 3/444).

Syaikh Shalih bin Fauzan berkata, “Adapun hadits-hadits yang terdapat dalam masalah ini, semuanya adalah hadits palsu sebagaimana dikemukakan oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (tanggal 14, 15, 16), maka ia boleh melakukan puasa pada bulan Sya’ban seperti bulan-bulan lainnya tanpa mengkhususkan hari itu saja.”

Syaikh Sayyid Sabiq berkata, “Mengkhususkan puasa pada hari nisfu Sya’ban dengan menyangka bahwa hari-hari tersbut memiliki keutamaan dari pada hari lainnya, tidak memiliki dalil yang shahih” (Fiqh As-Sunnah: 1/416).

Kelima, persiapan dana (finansial). Sebaiknya aktivitas ibadah di bulan Ramadhan harus lebih mewarnai hari-hari ketimbang aktivitas mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi bukaan). Karena itu, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang mengalokasikan dana untuk shadaqah, infaq serta memberi ifhtar selama bulan ini. Moment Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliah kita. Ibnu Abbas r.a berkata, ”Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam persiapan maliah adalah mempersiapkan dana agar dapat beri’tikaf dengan tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga.

Keenam, persiapan fisik yaitu menjaga kesehatan. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya terganggu. Rasul saw bersabda, “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim) 

Maka, untuk meyambut Ramadhan kita harus menjaga kesehatan dan stamina dengan cara menjaga pola makan yang sehat dan bergizi, dan istirahat cukup.

Ketujuh, menyelenggarakan tarhib Ramadhan. Disamping persiapan secara individual, kita juga hendaknya melakukan persiapan secara kolektif, seperti melakukan tarhib Ramadhan yaitu mengumpulkan kaum muslimin di masjid atau di tempat lain untuk diberi pengarahan mengenai puasa Ramadhan, adab-adab, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya atau amal ibadah lainnya.

Menjelang bulan Ramadhan tiba, Rasul saw memberikan pengarahan mengenai puasa kepada para shahabat. Beliau juga memberi kabar gembira akan kedatangan bulan Ramadhan dengan menjelaskan berbagai keutamaannya. Abu Hurairah ra berkata, “menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah saw bersabda, “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam itu, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). 

Selain itu, banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah saw untuk memberi motivasi dan semangat kepada para sahabat dan umat Islam setelah mereka dalam beribadah di bulan Ramadhan.

Akhirnya, penulis mengajak seluruh umat Islam khususnya di Aceh untuk menyambut bulan Ramadhan yang sudah di ambang pintu ini dengan gembira dan  mempersiapkan diri untuk beribadah dengan optimal. Selain itu kita berharap kepada Allah Swt agar ibadah kita diterima, tentu dengan ikhlas dan sesuai Sunnah Rasul saw. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan dan dapat meraih berbagai keutamaannya.

Penulis: Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/06/22/35696/menyiapkan-diri-menyambut-ramadhan/

Senin, 17 Juni 2013

Hanya 4 Fraksi yang Tolak, Harga BBM dipastikan Akan Naik

Wartadakwah.com - Sidang paripurna DPR RI yang semula berlangsung alot akhirnya selesai dengan voting, Senin (17/6) malam. Hasilnya, RAPBNP 2013 disetujui menjadi undang-undang dengan suara 338 anggota menerima dan 181 menolak. Dengan demikian, kenaikan harga BBM tinggal menunggu waktu.
Berikut ini lima fraksi yang menerima kenaikan harga BBM:


1. Demokrat
- Menolak: 0
- Menerima: 143


2. Golkar
- Menolak: 0
- Menerima: 98


3. PAN
- Menolak: 0
- Menerima: 40


4. PPP
- Menolak: 0
- Menerima: 34


5. PKB
- Menolak: 0
- Menerima: 23


Sedangkan empat fraksi lainnya menolak kenaikan BBM:
1. PDIP
- Menolak: 91
- Menerima: 0


2. PKS
- Menolak: 51
- Menerima: 0


3. Gerindra
- Menolak: 25
- Menerima: 0


4. Hanura
- Menolak: 14
- Menerima: 0


[Beda]

Rabu, 12 Juni 2013

Berikan Motivasi Untuk Membangun Jiwa Anak

Wartadakwah.com - Motivasi adalah unsur terpenting dalam tarbiyah dan tidak boleh disepelekan. Memberikan dorongan kepada anak memainkan peranan penting dalam jiwa, memicu gerak positif konstruktif dan mengungkap potensi dan jati dirinya. Sebagaimana ia dapat meningkatkan kontiunitas kerja dan mendorongnya untu kterus maju.
 
Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah, sehingga beliau bersedia berlomba lari dengan anak-anak. Begitu juga Umar bi Khaththab yang mendorong anaknya agar berani bebricara diharapan orang-orangtua. Setelah diberitahu Abduyllah bahwa dia bsia menjawab pertanyaan Nabi tentang pohon di lembga, Umar berkata, “Kenapa kamu tadi tidak mengatakannya?”

Umar juga pernah mendorong anak-anak agar mengutarakan pendapatnya walaupun di hadapan orang-orang tua. Beliau bertanya, terkait dengan siapakah ayat 266 surat Al-Baqarah, 

“Apakah ada salah seorang diantaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur…?”

“Wallahu a’lam.” Kata para sahabat

Ibnu Abbas berbicara, “Wahai Amirul Mukmini, dalam diri saya ada sesuatu mengenainya.”
Katakan saja, hai anak saudaraku! Jangan kamu merasa rendah diri!”
“Itu adalah perumpamaan Allah terhadap suatu amal.”

Diantara dorongan baik kepada anak adalah dorongan agar anak gemar membeli buku. Ibnu Abidin berkata bahwa ayahnya sering mendorongnya untuk membeli buku, “Belilah buku yang kamu minati, ayah yang akan membayarnya. Sebab, kamu yang akan menghidupkan apa yang telah kami matikan dari sirah pendahuluku. Semnoga kamu diberi balasan abik oleh Allah, wahai putraku!”.

*Disadur dari Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli dengan sedikit perubahan.
(esqiel/mz)

Diancam Dengan Senjata Pemuda Palestina Dipaksa Minum Alkohol

Wartadakwah.com - Seorang perwira Intelijen Israel menodongkan senjata ke arah pemuda palestina dari desa beit Ummar dan memaksanya untuk meminum minuman keras.
 
Muhammad Ayad Awad, juru bicara Komite Rakyat melawan pemukiman di Beit Ummar mengatakan bahwa patroli militer tentara pendudukan menahan Muhammad Khalil Abu Diyah (24 tahun), seorang warga Safa di wilayah Beit Ummar, dan membawanya ke menara militer  yang terletak di pintu masuk kota. Disana ia di interogasi terkait dengan nama-nama dalam bentrokan yang terjadi di Beit Ummar.

Awad menambahkan bahwa pemuda palestina tersebut bersikeras untuk tidak memberikan informas apapun, lalu seorang petugas menodongkan pistol ke bagian belakang kepalanya dan memaksanya untuk minum sebotol minumann keras, hal itu menyebabkan ia tidak sadarkan diri selama satu jam, kemudian setelah itu pasukan tersebut melemparkannya keluar menara militer.

Awad mengatakan sejumlah warga yang melihatnya lalu membawanya ke rumah, dimana menurut warga pemuda tersebut dalam keadaan mabuk berat dan berbau alkohol.

Perlu di catat bahwa Muhammad Khalil telah beberapa kali ditangkap dan mengalami penyiksaaan, pada tahun 2009 ia disiksa di dalam penjara Ashkelon dan menyebabkan cedera serius di kepala.(hr/Im/em)

Soal Larangan Polwan Berjilbab, Ini Tanggapan Wakapolri

Wartadakwah.com - Meski terus diprotes banyak pihak lantaran tidak mengijinkan polisi wanita (polwan) memakai jilbab saat bertugas, Polri bergeming. Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal Polisi Nanan Sukarna menolak jika aturan seragam Polri tersebut dianggap melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Pihak Polri menjelaskan, aturan dalam surat Kapolri Nomor 702 tahun 2005 yang mengatur masalah seragam dinas, menekankan setiap anggota kepolisian wajib berseragam dinas. Selain itu, penggunaan jilbab oleh polisi wanita tidak diperbolehkan karena aturan umum seragam kepolisian.


Menurut Wakapolri, setiap mereka yang hendak bergabung dalam institusi Polri harus tunduk dan taat pada aturan yang berlaku di tubuh kepolisian. Ia meminta para polwan untuk mengikuti aturan yang ada, sebelum ada aturan baru yang diberlakukan untuk menghindari sanksi.


Sementara itu, desakan dari berbagai pihak agar Polri mengijinkan Polwan berjilbab terus menguat. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin, mengecam aturan yang melarang polwan berjilbab.


“Itu adalah kebijakan yang tidak bijak,” kata Din seperti dikutip Republika, Rabu (12/6).

Menurutnya, kebijakan yang melarang polwan berjilbab melanggar konstitusi. Din menegaskan, dalam UUD 1945 Pasal 29 negara menjamin hak-hak warga negaranya dalam menjalankan ibadah sesuai agama yang dipeluknya.


Sebelumnya, Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila mengatakan pelarangan penggunaan jilbab bagi polwan muslim bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM).


"Penggunaan jilbab itu berkaitan dengan keyakinan yang dianut oleh sebuah agama. Jika penggunaan jilbab terhadap polwan dilarang, maka itu sudah melanggar HAM karena berkaitan dengan keyakinan," kata Laila, Sabtu (8/6) lalu. [AM/Rpb/bsb/Beda]

Minggu, 09 Juni 2013

Rasulullah Pun Tawarkan Bantuan kepada Pembantu

Wartadakwah.com

كَانَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم مِمَّا يَقُوْلُ لِلْخَادِمِ: أَلَكَ حَاجَةٌ؟ -أحمد

Artinya: Dari apa-apa (yang banyak) dikatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada pembantu beliau,”Apakah engkau memerlukan sesuatu?” (Riwayat Ahmad, dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Dalam periwayatan yang lengkap disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menawarkan bantuan kepada pembantu beliau, hingga suatu saat sang pembantu menjawab,"Saya memerlukan agar Anda memberi syafaat untuk saya di hari kiamat." Dan Rasulullah pun mengiyakan, namun meminta kepada pembantu beliau itu untuk memperbanyak sujud.

Ibnu Arabi menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan kesempurnaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam segala persoalan (Faidh Al Qadir, 5/229). Bagaimana tidak, perkataan yang biasa disampaikan oleh pembantu kepada majikan seperti,”Ada yang perlu saya lakukan?”, “Ada yang bisa saya bantu?” atau ungkapan lainnya malah disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada pembantu beliau.

Nah, jika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam amat memuliakan pembantu dan tidak merendahkan mereka, bagaimana dengan sikap kita terhadap pembantu?
[hd]
 

Minggu, 02 Juni 2013

Beginilah Cara Mereka Menghancurkan Kita

Wartadakwah.com - Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

***

Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

-Note From Brother Asep Juju-

(anna/muslimazone.com)

Gunting Jilbab Dan Rok Mahasiswinya, Dosen STIKES NH Makassar Dipecat

Wartadakwah.com - Seorang dosen di Makassar, Sulawesi Selatan dipecat karena menggunting paksa jilbab dan rok dua orang mahasiswinya.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Nani Hasanuddin Makassar, Yasir, M.Kes mengatakan, pemecatan dosen berinisial HR itu dilakukan pada Ahad (02/06/2013) lalu.

“Pihak institusi sudah mengambil langkah tegas dengan menon-aktifkan oknum dosen tersebut,” kata Yasir kepada hidayatullah.com, Ahad (02/06/2013).

Yasir menceritakan, HR melakukan pengguntingan itu di depan 100 mahasiswi angkatan 2012. Alasan HR, kata Yasir, sebagai efek jera karena kedua mahasiswi itu dia anggap telah melanggar peraturan kampus yang mewajibkan mahasiswinya memakai celana dinas dan jilbab pendek.

Atas tindakan itu, HR telah membuat surat pernyataan maaf yang ia tujukan untuk mahasiswinya dan masyarakat luas, khususnya umat Muslim. [Hd]